Sebuah Kata Bernama Kesendirian
Air mata tidak lagi bisa menepis gundah.
Kelelahan dalam tempuhan jalan yang dilalui.
Tujuan tidak lagi memiliki arah.
Adakah kesunyian senantiasa melingkupi.
Hati sudah tidak lagi mengetahui rasa.
Kesendirian menjadi kehampaan.
Kesempurnaan adalah sebuah kekosongan, makna dari ketidakberdayaan.
Apalagi yang harus dilalui.
Hamparan keindahan tidak lagi bisa menjadi obat penawar gundah.
Keramaian menjadi ketidakberdayaan.
Kemarin, hidup menjadi sebuah harapan, tujuan adalah keharusan.
Sekarang, lelah diri untuk berjalan.
Apa sudah mati rasa di diri.
Apa sudah luka ini mengelilingi.
Apa Diri sudah menjadi kesalahan.
Hidup............
Selalu, mungkin memang seharusnya menempuh episode
dimana mata sudah tidak lagi dapat menangis.
Kalbu sudah tak bisa lagi beranjak.
Pikir sudah tidak lagi ada daya.
Elegi hidup...........kapan akan bermuara?
Apa sudah saja menyerah.
Hidup cukup sampai untuk sekarang.
Di sini.
Tuhan pasti ada rencana.
Hidup haruslah sampai pada hari esok.
Berjalan di atas debu.
Tepekur.
Diri menyadari bahwa semua memang akan berakhir.
Tidur sudah tidak lagi terasa nyenyak.
Selalu saja ada satu nama.
Kesendirian......
Entah mengapa.......setelah itu, selalu kembali terasa hampa.
Putaran waktu tetaplah berjalan.
Apakah yang lebih penting?
Bertanya pada siapa sang bintang jika dia sedang sepi?
Bulan terlalu jauh untuk disapa.
Mentari terlalu sulit untuk didekati.
Meski kawan datang mendekat,
Selalu.....sendiri akan menjadi tepian.
Lelaki itu, masih adakah dia untuk bisa kau temani?
Bebauan sampai pada nuansa penciuman.
Hmmm........wanginya tidaklah lagi terasa.
Kembali......sendiri melingkupi.
Untaian puisi tanpa makna tetap akan menjadi sebuah kesendirian.
Begitu pula lukisan tanpa warna.
Atau bunga tanpa keindahan.
Sepatu usang sudah terbuang.
Lelaki kini tidaklah sendiri.
Kau.....tetap dilingkupi sepi.
Karena kau tetaplah akan selalu menjadi sebuah nama bertulis kesendirian.
Andai saja nama itu bisa pergi dari hidup.
Tentu tidur akan kembali terasa nyenyak.
Kelelahan dalam tempuhan jalan yang dilalui.
Tujuan tidak lagi memiliki arah.
Adakah kesunyian senantiasa melingkupi.
Hati sudah tidak lagi mengetahui rasa.
Kesendirian menjadi kehampaan.
Kesempurnaan adalah sebuah kekosongan, makna dari ketidakberdayaan.
Apalagi yang harus dilalui.
Hamparan keindahan tidak lagi bisa menjadi obat penawar gundah.
Keramaian menjadi ketidakberdayaan.
Kemarin, hidup menjadi sebuah harapan, tujuan adalah keharusan.
Sekarang, lelah diri untuk berjalan.
Apa sudah mati rasa di diri.
Apa sudah luka ini mengelilingi.
Apa Diri sudah menjadi kesalahan.
Hidup............
Selalu, mungkin memang seharusnya menempuh episode
dimana mata sudah tidak lagi dapat menangis.
Kalbu sudah tak bisa lagi beranjak.
Pikir sudah tidak lagi ada daya.
Elegi hidup...........kapan akan bermuara?
Apa sudah saja menyerah.
Hidup cukup sampai untuk sekarang.
Di sini.
Tuhan pasti ada rencana.
Hidup haruslah sampai pada hari esok.
Berjalan di atas debu.
Tepekur.
Diri menyadari bahwa semua memang akan berakhir.
Tidur sudah tidak lagi terasa nyenyak.
Selalu saja ada satu nama.
Kesendirian......
Entah mengapa.......setelah itu, selalu kembali terasa hampa.
Putaran waktu tetaplah berjalan.
Apakah yang lebih penting?
Bertanya pada siapa sang bintang jika dia sedang sepi?
Bulan terlalu jauh untuk disapa.
Mentari terlalu sulit untuk didekati.
Meski kawan datang mendekat,
Selalu.....sendiri akan menjadi tepian.
Lelaki itu, masih adakah dia untuk bisa kau temani?
Bebauan sampai pada nuansa penciuman.
Hmmm........wanginya tidaklah lagi terasa.
Kembali......sendiri melingkupi.
Untaian puisi tanpa makna tetap akan menjadi sebuah kesendirian.
Begitu pula lukisan tanpa warna.
Atau bunga tanpa keindahan.
Sepatu usang sudah terbuang.
Lelaki kini tidaklah sendiri.
Kau.....tetap dilingkupi sepi.
Karena kau tetaplah akan selalu menjadi sebuah nama bertulis kesendirian.
Andai saja nama itu bisa pergi dari hidup.
Tentu tidur akan kembali terasa nyenyak.
Komentar