Hanya Ingin Menulis
Beberapa kejadian pada bulan-bulan pertama tahun ini bagi saya, banyak sekali menguras emosi. Banyak dari setiap peristiwa membawa pada pengetahuan yang kemudian masih juga menyisakan tanya. Ada ketidakmengertian dalam menjalani hari-hari. Terutama hubungan antar manusia dan alamnya, yang selanjutnya saya hubungkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Sebagai umat Tuhan, kita semua pada hakikatnya diciptakan sama. Tetapi, dalam perjalanannya begitu beragam perilaku yang membuat semuanya menjadi tidak sama. Kompleksitas dalam hal menilai, mengerti dan memahami dan selanjutnya saling berinteraksi antar sesama makhluk bernama manusia.
Dalam permulaan tahun, ada kematian yang berujung pada pertanyaan mengapa orang baik selalu dipanggil lebih awal oleh Sang Maha. Kurasan air mata pertama yang benar-benar terlalu banyak menggugah keinginan untuk menjadi lebih baik bukan sekedar ada di mata manusia tetapi juga benar di mata Tuhan.
Dalam permulaan tahun, ada kematian yang berujung pada pertanyaan mengapa orang baik selalu dipanggil lebih awal oleh Sang Maha. Kurasan air mata pertama yang benar-benar terlalu banyak menggugah keinginan untuk menjadi lebih baik bukan sekedar ada di mata manusia tetapi juga benar di mata Tuhan.
Ketidakmengertian selanjutnya adalah kerumitan pikir yang justru selalu muncul pada manusia yang menganggap bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah kehebatan di antara manusia lainnya. Entah kenapa semua itu membuat perutku mual. Kita ini tidak lebih dari setitik debu yang diciptakan Tuhan untuk berada di dunia dengan makhluk lainnya sebagai penyeimbang, bagi yang lain. Kelebihan kita adalah kelemahan bagi yang lain begitu juga sebaliknya. Amarah.....terlalu banyak amarah yang tidak sekalipun dicoba untuk ditahan. Tapi.....dalam keadaan demikian, apakah bisa amarah itu kita tahan barang sejenak?
Ada banyak kebodohan yang ditutupi dengan kekuasaan. Ada Ambisi yang tertutupi nilai rupiah. Ada kelicikan dalam dalih bernama diplomasi. Ada banyak kebohongan dalam argumentasi bernama politik. Semua terasa terdengar sebagai sebuah kemunafikan.
Apakah memang negara ini sudah tidak lagi ada nurani yang dapat berkata dengan jujur bahwa moralitas kita sudah dalam masa kritis. Masih perlukah sebuah alasan dibuat setelah tindak berjalan pada arah yang salah. Kelam sekali cara dunia ini bekerja. Dimana lagi nurani itu?. Sudah tidak ada lagi yang namanya ketulusan. Teman hanya sebagai prestise dari sebuah keberhasilan menguasai orang lain. Aneh.......semua itu justru muncul dari orang-orang yang mengaku berpendidikan dan lahir dari keluarga terhormat. Apanya yang berpendidikan dan terhormat ? kekejamannya?nurani yang terkoyak?.
Aku masih belum mengerti.....tapi aku masih dapat berharap bahwa ketulusan itu memang masih ada. Nurani itu masih tampak sangat bening pada pakaian lusuh penyapu jalanan. nurani itu masih dapat kutemui diantara para pengangkut sampah. Aku masih dapat menemui tawa lepas di antar gang-gang sempit yang kutemui dan aku banyak mendapat pelukan hangat dengan cinta dari sahabat di pinggir sebuah rel kereta.
Aneh..........
Semuanya membuat aku semakin tidak mengerti.
Aneh..........
Semuanya membuat aku semakin tidak mengerti.
Komentar